Day 20: The magic in dental studio

smiles

Tadi pagi seluruh rencana sehari langsung hancur hanya gara-gara gigi tiruan bagian depan jatuh ketika sedang menyikat gigi dan langsung meluncur bebas ke dalam saluran air. Selesai!

Kalaupun hari ini ada kesempatan new business yang besar maka dengan berat hati akan saya lepaskan. Kalaupun ada kesempatan ketemu Jokowi untuk diajak menjadi penasihat komunikasinya maka dengan berat hati juga akan saya lepaskan.

Seperti layaknya orang Indonesia, dalam kesedihan melihat ada lorong di antara kedua gigi depan, saya merasa beruntung karena kebetulan sore ini saya memiliki janji dengan dokter gigi untuk membereskan gigi yang sudah hilang itu.

Dokter gigi Asti masih muda, mungkin masih sekitar awal atau pertengahan 30-an. Dengan cekatan dia mengambil peralatan, mencetak, mengukur, mengukir, dan dalam waktu 90 menit saya sudah bisa keluar dari ruangannya sambil tersenyum lebar. Luar biasa!

Dalam kondisi seperti ini saya teringat kembali masa-masa saya kuliah di FKG UI. Ya, saya memang seorang dokter gigi, berdasarkan pendidikan, tapi tidak pernah sekalipun saya mempraktekkan keahlian yang saya pelajari selama lebih dari 5 tahun. Saya merasa bahwa ruangan seluas 3x3m itu sangat membatasi kreatifitas saya dan kegemaran saya bercerita. Hubungan seorang dokter gigi dan pasien adalah hubungan satu arah, ketika pasien sedang membuka mulut (yang terjadi selama 90% waktunya di klinik dokter gigi) maka dokter gigi hanya akan berbicara kepada dirinya sendiri. Namun ketika melihat Asti dengan teliti dan sabar membuatkan gigi baru untuk saya, saya merasakan adanya keajaiban yang terjadi melalui tangannya.

Profesi dokter gigi seringkali dipandang sebelah mata, kalah tenar dengan dokter bedah atau dokter penyakit dalam. Bahkan dulu waktu kuliah kami sering diolok-olok anak-anak FK UI yang gedungnya bersebelahan: “gila, belajar gigi yang hanya 32 saja kok perlu 5 tahun”. Saya percaya, seorang dokter pun pasti pernah mengalami masalah dengan giginya, dan saya yakin pada saat itu ia akan mengangkat topi melihat keahlian si dokter gigi. Di dalam mulut ada gigi, gusi, langit-langit, lidah, dan pangkal tenggorokan. Semuanya dikelilingi pembuluh darah dan saraf yang kecil dan rumit. Setiap gigi juga memiliki bentuk yang berbeda, dan setiap orang memiliki bentuk gigi yang unik juga. Jadi, it is more than just 32 teeth! Dalam 90 menit, seperti yang saya alami hari ini, seorang dokter gigi hanya dapat melayani 1 pasien. Berapa pasien yang bisa dilayani oleh seorang dokter penyakit dalam selama 90 menit dan berapa uang yang dia dapat?

Foto di halaman ini sangat tepat menggambarkan apa yang terjadi di dalam ruang dokter gigi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: