Day 16: Stranded at Changi

Agak kaget hari ini ketika tiba di Klinik SNEC di Gleneagles hospital karena ruangan dokter Yvonne Ying gelap dan kosong. Ternyata sudah pindah ke dalam, di depan meja registrasi. Suasana di dalam klinik juga terasa lebih ramai dan sesak. Dokter Yvonne kemudian menjelaskan bahwa klinik terpaksa diciutkan karena harga sewa semakin mahal. Wah, kalau begini terus, lama-lama tarif berobat dan tarif dokter juga akan semakin mahal.

Nah, karena klinik makin sempit dan pasiennya banyak, masa pemeriksaan dan konsultasi yang biasanya hanya sekitar 1 jam molor menjadi hampir 2 jam. Saya sudah mulai resah karena pesawat kami berangkat jam 17.50 sementara jam 17.10 kami baru keluar dari klinik. Untuk memotong antrian taxi yang panjang, saya menggunakan Uber yang kebetulan supirnya anak muda. Saya minta dia untuk ngebut tapi tetap saja baru tiba di Changi jam 17.35 yang berarti hanya 15 menit sebelum departure. Check in counter sudah tutup, dan walaupun kami sudah melakukan online check in tapi kami tetap harus mengambil boarding pass di counter. Kami meminta petugas informasi untuk menghubungi gate Air France tapi ternyata gate sudah tutup.
Akhirnya saya harus menerima fakta bahwa kami secara resmi terdampar di Changi airport.
IMG_4284
Kami terpaksa membeli tiket baru dengan Garuda yang berangkat besok pagi jam 7. Kami langsung pindah dari Terminal 1 tempat Air France ke Terminal 3 untuk check in dengan Garuda. Saya mengira kami bisa check in hari ini dan menghabiskan 12 jam di dalam terminal yang penuh dengan berbagai fasilitas nyaman. Ternyata check in hanya bisa dilakukan untuk penerbangan di hari yang sama. Berarti kami baru bisa check in besok pagi jam 5.25 dan juga berarti kami harus menghabiskan sekitar 9 jam di terminal bagian luar. Oh my….. 😦
Pilihan tempat untuk beristirahat tidak banyak. Hotel terdekat adalah Crowne Plaza dengan tarif 3 jutaan, mahal sekali untuk tidur 6 jam. Ada juga hotel Changi Village sekitar 15 menit dari airport dengan tarif 2,2 juta. Masih mahal. Di basement ada pay-per-use lounge dengan tarif sekitar 700 ribu/orang/3 jam. Berarti 2,8 juta untuk kami berdua selama 6 jam. Masih mahal juga!
Akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di Terminal 3 dan kemudian pindah ke Terminal 2 untuk minum kopi sambil numpang tidur di sofa Starbucks. Baru tidur sekitar 2 jam kami sudah disuruh pergi karena Starbucks sangat ramai bahkan sampai jam 1 pagi. Kami pun pindah kembali ke Terminal 3 dan menghabiskan 4 jam dengan tidur di kursi bandara yang keras.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: